Anak-anak dengan bersemangat membersihkan dan menghias halaman sekolah karena pesta sekolah sudah dekat. Ketika aku pelan-pelan mengangkat kepalaku, aku melihat Patty telah berdiri di depanku, siap untuk menyampaikan sebuah permintaan yang baginya sangat penting dan mendesak.
"Setiap tahun aku m-m-m-mendapatkan peran b-b-b-bisu. Anak-anak lain selalu m-m-m-mendapatkan peran b-b-b-bicara atau yang lain. B-b-b-bicara. Tahun ini, aku ingin b-b-b-baca p-p-p-puisi, sendiri!"
Waktu kupandang sepasang mata yang sangat bersemangat itu, aku tidak ingin berkilah lagi. Permohonan itu membuatku mengeluarkan sebuah janji bahwa dalam sehari atau dua hari ia akan kuberi peran khusus - peran yang memberinya kesempatan untuk "bicara." Dan, ternyata janji ini termasuk salah satu yang paling sulit kupenuhi.
Tidak satu pun buku yang ada padaku menyediakan pilihan yang sesuai. Dalam keputusasaanku, aku berjaga sepanjang malam untuk menulis sebuah puisi, yang dengan hati-hati menghindari pemakaian huruf-huruf yang sulit diucapkan oleh lidahnya. Puisi itu tidak bagus, tetapi kubuat secara khusus guna mengatasi masalah bicara yang dialami oleh Patty. Baru beberapa kali membaca secara singkat, Patty telah menghafal semua bait dan siap menampilkannya. Bagaimanapun kami harus mengendalikan keinginan yang menggebu-gebu itu tanpa merusak semangatnya. Hari demi hari, Patty dan aku berlatih untuk penampilan itu. Ia dengan cermat sekali menyesuaikan lama bicaranya dengan gerak mulut yang kucontohkan. Ia tidak sabar lagi menunggu saat untuk pertama kalinya tampil dengan peran bicara.
Bagi anak-anak, malam pesta adalah sesuatu yang sangat mereka nantikan. Beberapa saat sebelum acara dimulai, pembawa acara datang kepadaku, memperlihatkan daftar acara yang telah diketik. "Pasti ada yang salah! Anda memasukkan Patty ke dalam salah satu acara pembacaan puisi. Bukankah untuk menyebut namanya sendiri saja anak itu tidak lancar?" Karena tidak ada waktu untuk menjelaskan, aku tidak memedulikan keberatannya dengan berkata, "Kami tahu yang kami perbuat."
Malam hiburan berjalan dengan baik. Acara demi acara ditampilkan, orangtua dan anak-anak menanggapi semuanya dengan tepuk tangan meriah. Menjelang tiba pada acara yang membuatnya ragu, pembawa acara sekali lagi menemui aku, bersikeras bahwa Patty hanya akan mempermalukan semua orang. Kesabaranku lenyap, maka aku membentaknya, "Patty akan tampil sesuai rencana. Kau kerjakan saja tugasmu. Bacakan acara berikutnya." Aku bergegas ke depan, duduk tepat di bawah panggung.
Pembawa acara muncul membacakan acara yang akan ditampilkan. "Pembaca puisi berikutnya adalah... mm... Patty Connors." Hampir semua penonton terkejut, segera diikuti dengan senyapnya seluruh ruangan. Layar pelan-pelan dibuka untuk menampilkan Patty yang waktu itu tampak sangat bersemangat dan penuh percaya diri.
Latihan berjam-jam yang telah dijalaninya memungkinkan semua itu. Dengan pengendalian yang sempurna, si mungil yang memesona ini menyelaraskan ucapan-ucapannya dengan panduan yang kuberikan dengan mulutku dari balik lampu panggung. Ia melafalkan tiap suku kata dengan kejelasan yang terkendali, dan tanpa kegagapan atau ketersendatan sama sekali. Dengan mata berbinar-binar, ia mengakhiri pembacaanya dengan memberikan penghormatan sambil membungkuk, hormat kemenangan.. .
Layar ditutup. Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Perlahan-lahan kesenyapan itu digantikan dengan decak-decak kekaguman, dan akhirnya tepuk tangan dan sorak-sorai membahana. Dengan tubuh gemetar karena haru, aku segera ke belakang panggung. Pahlawan kecilku mengembangkan tangannya memelukku dan, dengan kegembiraan meluap, ia tergagap, "Kita b-b-b-berhasil!"
Jumat, 09 Januari 2009
Senin, 05 Januari 2009
Killer Statement
Ada sebuah istilah komunikasi negatif dalam Kecerdasan Emosional yang disebut killer statement. Jenis-jenis killer statement ini, tanpa sadar kita dengar setiap hari, atau barangkali tanpa sadar kita keluarkan dengan maksud bercanda, memotivasi, tapi justru merusak. Nah, kalimat-kalimat perusak jiwa yang menghasilkan perasaan yang negatif pada diri seseorang itulah yang seringkali kita sebut killer statement.
Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari killer statement yang pernah diterima oleh dua anak bernama Jerry Siegel dan Joe Shuster. Kisahnya begini. Di masa depresi yang melanda Amerika pada 1933, Jeery Siegel mempunyai ide menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa.
Tenaganya lebih kuat dari besi, bisa terbang dan asalnya dari planet lain. Maka, bersama dengan temannya yakni Joe Shuster yang pandai melukis, diciptakanlah untuk pertama kalinya gambaran manusia baja tersebut. Tetapi gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik. Kecaman dan kritikan diterima.
Selama enam tahun berturut-turut komiknya pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang membutuhkan komik strips. Lantas mereka pun mencoba menjual kepada mereka.
Tapi, saat membuka-buka dan menlihat gambaran komik mereka, para editor pun tertawa dan berkata, “Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual”. Maka, karena sudah terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada Detective Comics hanya senilai US$ 130.
Perhatikan baik-baik, hanya seharga US$ 130 !. Tapi, itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster akibat terlalu mendengarkan killer statement yang diterimnya. Karena, beberapa saat setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang, penglihatan super serta kekuatan fisik yang luar biasa.
Komik Superman menjadi begitu laris, hingga difilmkan, karakternya menjadi tokoh idola anak-anak. Sementara Shuster dan Siegel, penciptanya yang pertama, hanya bisa gigit jari. Tokoh Superman menjadi populer dan meraup keuntungan miliaran dolar AS. Tapi tokoh penciptanya hanya mendapat US$130, bahkan hidup dalam utang dan kemiskinan.
Untungnya, pada 1975 setelah mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari publik yang menganggap Detective Comics tidak berperikemanusiaan dengan membiarkan pencipta Superman hidup dalam kemiskinan, akhirnya Detective Comics sepakat memberikan jaminan finansial. Tetapi, kalau kita melihat kembali, itulah harga dari sebuah killer statement yang telah menghancurkan karir dan kehidupan dua orang bocah bernama Shuster dan Siegel.
Rekan, kisah ini kiranya membuat kita sadar akan bahaya dari killer statement dalam hubungan interpersonal kita. Memang, kadang killer statement ini diucapkan tidak dengan intensi yang negatif, tapi dampaknya, sungguh merusak! Namun, bisa juga killer statement ini diucapkan dengan maksud khusus untuk menjatuhkan mental orang yang mendengarnya.
Oleh karena itu, ada beberapa tip penting bagi kita. Pertama, hati-hati dengan killer statement yang mungkin kita ucapkan baik kepada anak kita, pasangan hidup kita, rekan kerja maupun bawahan kita. Killer statement ini menunjukkan bahwa kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan, bisa membunuh potensi, kemampuan maupun karakter baik seseorang.
Kedua, kita sendiri sebagai orang yang akan dan biasa menerima killer statement dari orang-orang di sekitar kita, lebih baik kita siapkan anti virus bagi kita sendiri. Anti virus ini berisi kalimat lain yang kita ucapkan pada diri kita sendiri, meskipun orang lain sudah mengatakan killer statement itu kepada kita.
Dalam workshop Kecerdasan Emosional yang kami lakukan, salah satu latihan yang kami berikan adalah dengan menggunakan kalimat penguatan positif yang cepat menetralkan meskipun orang lain telah mengatakan hal yang buruk kepada Anda.
Menariknya, di salah satu acara kontes menyanyi, ada seorang penyanyi kondang yang sudah tua, tapi diundang untuk menjadi juri tamu. Saat itu ada seorang penyanyi yang mendapat penilaian buruk dan akhirnya tersingkir. Saat sebelum mundur, si penyanyi tua ini memberikan nasihat, “Jangan pedulikan hasil penilaian ini buatmu. Yang penting adalah kuatkanlah dirimu terus. Sayapun tidak pernah menjuarai kontes menyanyi, toh dengan kegigihan, saya bisa menjadi seorang penyanyi. Teruslah berlatih dan buktikan dirimu bisa berhasil”.
Sungguh suatu kata-kata penguatan yang luar biasa. Andapun harus mengatakan hal yang sama kepada diri Anda, saat Anda diberikan kata- kata negatif ataupun killer statement. Ingatlah rekan, jangan sampai potensi dan kemampuan Anda dirusak oleh kata-kata dari kalimat orang yang tidak bertanggung jawab. Merekalah yang sebenarnya punya masalah dengan diri mereka. Jangan biarkan mereka merusak diri Anda. Jangan biarkan mereka mencuri mimpi Anda.
Sumber : Anthony Dio Martin
Menariknya, sejarah dunia komik pun pernah mencatat akibat buruk dari killer statement yang pernah diterima oleh dua anak bernama Jerry Siegel dan Joe Shuster. Kisahnya begini. Di masa depresi yang melanda Amerika pada 1933, Jeery Siegel mempunyai ide menciptakan seorang tokoh pahlawan anak-anak yang mempunyai kemampuan luar biasa.
Tenaganya lebih kuat dari besi, bisa terbang dan asalnya dari planet lain. Maka, bersama dengan temannya yakni Joe Shuster yang pandai melukis, diciptakanlah untuk pertama kalinya gambaran manusia baja tersebut. Tetapi gambaran komik manusia super itu tidaklah begitu menarik. Kecaman dan kritikan diterima.
Selama enam tahun berturut-turut komiknya pun ditolak sana-sini. Hingga akhirnya, puncak kehancuran mental Siegel dan Shuster terjadi saat mereka mendengar ada editor dari Detective Comics yang membutuhkan komik strips. Lantas mereka pun mencoba menjual kepada mereka.
Tapi, saat membuka-buka dan menlihat gambaran komik mereka, para editor pun tertawa dan berkata, “Wah, nggak akan ada yang percaya dengan ide komik seperti ini. Gambarnya murahan dan tak mungkin laku dijual”. Maka, karena sudah terlalu frustrasi dengan penolakan dan kalimat yang menghancurkan itu, Shuster dan Siegel akhirnya sepakat menjual komik serta segala hak ciptanya kepada Detective Comics hanya senilai US$ 130.
Perhatikan baik-baik, hanya seharga US$ 130 !. Tapi, itulah kesalahan terbesar Siegel dan Shuster akibat terlalu mendengarkan killer statement yang diterimnya. Karena, beberapa saat setelah komiknya dibeli, karakter komiknya ternyata menjadi pujaan. Anda pasti bisa menebak. Itulah tokoh Superman, manusia Krypton dengan kemampuan terbang, penglihatan super serta kekuatan fisik yang luar biasa.
Komik Superman menjadi begitu laris, hingga difilmkan, karakternya menjadi tokoh idola anak-anak. Sementara Shuster dan Siegel, penciptanya yang pertama, hanya bisa gigit jari. Tokoh Superman menjadi populer dan meraup keuntungan miliaran dolar AS. Tapi tokoh penciptanya hanya mendapat US$130, bahkan hidup dalam utang dan kemiskinan.
Untungnya, pada 1975 setelah mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari publik yang menganggap Detective Comics tidak berperikemanusiaan dengan membiarkan pencipta Superman hidup dalam kemiskinan, akhirnya Detective Comics sepakat memberikan jaminan finansial. Tetapi, kalau kita melihat kembali, itulah harga dari sebuah killer statement yang telah menghancurkan karir dan kehidupan dua orang bocah bernama Shuster dan Siegel.
Rekan, kisah ini kiranya membuat kita sadar akan bahaya dari killer statement dalam hubungan interpersonal kita. Memang, kadang killer statement ini diucapkan tidak dengan intensi yang negatif, tapi dampaknya, sungguh merusak! Namun, bisa juga killer statement ini diucapkan dengan maksud khusus untuk menjatuhkan mental orang yang mendengarnya.
Oleh karena itu, ada beberapa tip penting bagi kita. Pertama, hati-hati dengan killer statement yang mungkin kita ucapkan baik kepada anak kita, pasangan hidup kita, rekan kerja maupun bawahan kita. Killer statement ini menunjukkan bahwa kalimat yang diucapkan tanpa pertimbangan, bisa membunuh potensi, kemampuan maupun karakter baik seseorang.
Kedua, kita sendiri sebagai orang yang akan dan biasa menerima killer statement dari orang-orang di sekitar kita, lebih baik kita siapkan anti virus bagi kita sendiri. Anti virus ini berisi kalimat lain yang kita ucapkan pada diri kita sendiri, meskipun orang lain sudah mengatakan killer statement itu kepada kita.
Dalam workshop Kecerdasan Emosional yang kami lakukan, salah satu latihan yang kami berikan adalah dengan menggunakan kalimat penguatan positif yang cepat menetralkan meskipun orang lain telah mengatakan hal yang buruk kepada Anda.
Menariknya, di salah satu acara kontes menyanyi, ada seorang penyanyi kondang yang sudah tua, tapi diundang untuk menjadi juri tamu. Saat itu ada seorang penyanyi yang mendapat penilaian buruk dan akhirnya tersingkir. Saat sebelum mundur, si penyanyi tua ini memberikan nasihat, “Jangan pedulikan hasil penilaian ini buatmu. Yang penting adalah kuatkanlah dirimu terus. Sayapun tidak pernah menjuarai kontes menyanyi, toh dengan kegigihan, saya bisa menjadi seorang penyanyi. Teruslah berlatih dan buktikan dirimu bisa berhasil”.
Sungguh suatu kata-kata penguatan yang luar biasa. Andapun harus mengatakan hal yang sama kepada diri Anda, saat Anda diberikan kata- kata negatif ataupun killer statement. Ingatlah rekan, jangan sampai potensi dan kemampuan Anda dirusak oleh kata-kata dari kalimat orang yang tidak bertanggung jawab. Merekalah yang sebenarnya punya masalah dengan diri mereka. Jangan biarkan mereka merusak diri Anda. Jangan biarkan mereka mencuri mimpi Anda.
Sumber : Anthony Dio Martin
Langganan:
Postingan (Atom)

